MENUJU CAHAYA

Menuju Cahaya
Oleh: Zainudin Hasan
Aku ingin menangis saja seharian, pikiranku terlalu campur aduk. Berita sedih, Senang, marah, sibuk, senyum, kagum, kaget, tidak percaya, kesal, berita gembira, cemburu, ramai, sunyi, bangga, menyesal. Tidak karu-karuan mengisi kepalaku, syaraf-syaraf otakku, fikiranku, jiwaku, batinku, hatiku.
Kemudian sunyi lagi. Aku ternyata masih sangat suka kesunyian.
Masih ingatkah kau pada masa-masa kecil kita, saat kita pernah bersama-sama menghitung rintik-rintik hujan yang jatuh didepan serambi rumah kita. Masih ingatkah engkau saat hujan itu kita mandi dan main perosotan bersama di tepian sawah kampung kita, tubuh kita yang kotor dilumuri oleh lumpur, air sungai yang kecoklatan karena derasnya hujan, kita bermain bersama. Masih ingatkah engkau dengan permainan-permainan kita dahulu; petak umpet, gobak sodor, benteng-bentengan, kasti, perang-perangan. Yah aku paling suka perang-perangan, dengan senjata laras panjang yang terbuat dari pelepah daun pisang, dengan gagah beraninya kita mengatur strategi perang bersama teman-teman kita, hingga kita dapat menemukan sebuah goa tempat persembunyian lawan kita, kita tembaki dan kita tawan lawan-lawan kita itu sampai jendaral lawan mengaku kalah. Sangat seru sekali. Satu lagi permainan kita yang aku sukai, kita main kerajaan-kerajaan, aku yang menjadi raja dan kau yang menjadi ratunya, hmm.. serta teman-teman kita yang jadi prajuritnya, dedaunan kopi yang dirangkai jadi mahkota kita, ada juga yang kita buatkan baju perang dari daun kopi belakang rumah kita. Hmm.. aku hanya bisa tersenyum mengingat semuanya.
Bersambung….

One Response

  1. Membran August 12, 2008

Leave a Reply