SEPI

SEPI
Zainudin Hasan

Pernahkan kita merasakan kesunyian, walaupun kita berada ditengah keramaian. Dalam sepi dan bosan kita Senyuman kadang terasa hambar karena benar kata seorang sahabat “Senyum seindah telaga kadang tidak seiring jalan dengan riak di dalam hati. Bila dikutip dari tulisan seorang sahabat mengenai definisi sepi bernama Kasyfi bahwa sepi adalah seperti mendefinisikan kekosongan, seperti selongsong yang telah kehilangan isinya,, yang tersisa hanyalah definisi itu sendiri yang tak terdefinisi lagi karena kehilangan fungsi.

Sepi itu adalah rasa ketika kau hendak lompat ke arah karang terjal, seraya berharap ada yang mencegahmu karena itu berbahaya. namun dia tak pernah datang dan kau terus melihat ke belakang. berharap dia selamatkanmu di detik terakhir, yang tak pernah terjadi.
Sepi itu seperti dingin yang tiba tiba melesak ke dalam, dan kaupun mencoba nyalakan titik cahaya tuk sebarkan kehangatan kembali, namun tak berhasil. dan dingin terus masuk hingga jiwamu terasa menggigil dan kau tak hendak berusaha lagi. dan melihat semua melambat. waktu terasa lebih lama bila kau sadari, seperti ketika kau menunggu sesuatu yang tak pernah datang, hanya sesuatu itu tidak ada.

Sepi adalah ketika tali yang hubungkanmu dengan dunia terasa terputus dan kau terus mencari pengganti untuk bisa terombang ambing. namun kau sadar semua itu tak seindah dan sekuat pertalian dahulu. lalu kau berhenti mencari pengganti sambil terus menahan sayatan sepi tanpa berbuat, kadang begitu perih dan sakit rasanya.
Begitulah tentang sepi, aku mungkin menyangka dan menafsirkan rasa sepi yang kadang kita rasakan karena terlampau bosan, letih dan jenuh. Bosan, letih dan jenuh karena terlalu lama menunggu, entah apa yang kau tunggu…..jodohkah? Pekerjaan kah? Masa depan yang tidak jelaskah?..atau kau tidak pernah mengerti mengapa tiba-tiba semua menjadi sepi seperti ini. Aku terlalu mengidentikkan antara sepi sunyi hati dengan menunggu, menunggu ketidak pastian.

Hanya selalu dan selalu ingin melompat kejurang yang terjal dan selalu melihat kebelakang tapi seperti tidak pernah ada yang peduli. Begitulah tentang sepi.
Sepi, sunyi dan sendiri.

Tapi aku selalu berharap ada Dia yang tidak pernah meninggalkanmu, karena Dia lebih dekat dari pada urat nadi dilehermu, dileherku dan dileher kita. Bersama Dia lah aku suka sepi, berkhalwat bersamaNya, sehingga ditiap jengkal hidupku aku merasa selalu menang.

“Allah yang mampu membuatmu tersenyum walaupun dalam keadaan menangis, tempat bertahan dan bersandar ketika kamu merasa harus menyerah, tempat berdoa ketika kamu kehabisan kata-kata, untuk mencintai meskipun hatimu telah hancur berkali-kali, untuk tetap mengerti ketika tak satupun kelihatan yang memberi arti, segala sesuatu menjadi mungkin karena Allah memampukan kita “ (Sami).

Waalahualam bisshawab

Leave a Reply