PATAH

Patah hati. Agak sedikit sulit mendeskripsikannya dengan kata-kata, sama rumitnya dengan mencari obat penawar patah yang satu ini, pernahkah terasa ada sesuatu yang patah, bermula dari keretakan kemudian remuk redam yang membuat langit hatimu tiba-tiba menjadi kelabu, membuat segala sesuatu yang kau jumpai tiba-tiba menjadi layu, membuat setiap sisi hidupmu yang biasanya selalu penuh terisi tiba-tiba menjadi terasa kosong dan hampa, membuat warna hidupmu tiba-tiba menjadi hanya hitam dan putih, setelah sebelumnya penuh dengan warna-warni.

Perih…tiada tara katanya, hanya orang-orang yang pernah merasakan yang bisa merasakan rasanya. Rasa ini, siapa yang tidak pernah mengalami…? paling tidak, kita bisa mengetahui orang yang patah hati sesungguhnya adalah orang-orang yang masih sangat memiliki hatinya.
Ada-ada saja setiap saat ada yang patah hati, ada puluhan orang ‘mungkin’ mengalaminya setiap waktu, bahkan pernah aku mencoba eksplorasi ada ratusan bahkan ribuan komunitas patah hati di Internet. Dengan motif patah hati yang berbeda-beda entah karena diputuskan, dicampakkan begitu saja, entah karena bertepuk sebelah tangan atau dia hanya bisa diam diantara dua insan dan membentuk segitiga permainan hati. Hanya bisa melihat, hanya bisa diam dan merasakan perihnya hati yang telah tertinggal. Sebuah cinta yang terlambat.

Patah Semangat. Patah yang satu ini grade nya berada satu tingkat dibawah Patah hati, walaupun dampaknya sama-sama mempengaruhi prilaku namun patah semangat hanya mengalami permasalahan pada motivasi, atau bisa saja patah semangat adalah sebuah efeksamping dari patah hati, namun kecenderungan patah semangat lebih menyentuh pada logika ketimbang perasaan, patah semangat dosisnya masih ringan bila dibandingkan dengan patah hati, namun sama-sama memiliki efek layu, retak, lemah dan hampa bahkan menghancurkan, menghancurkan motivasi, mensuramkan sendiri masa depannya, namun lagi-lagi tak pernah ada alasan untuk tidak bangkit, ku ingat kata-kata seorang sahabat : “ ketika satu pintu kebahagiaan tertutup, akan terbuka pintu kebahagiaan yang lain, tetapi kita acap kali terpaku pada satu pintu yang tertutup itu, sehingga kita tidak memperhatikan pintu yang lain yang dibukakan untuk kita….”(kutipan).

Patah patah, kalau patah yang satu ini pernah cukup populer di pecinta goyangan patah-patah yang pernah mempopulerkannya sehingga sejenak menaikkan rating namanya di mass media tapi kemudian tenggelam, tenggelam ditelan waktu, tenggelam oleh perubahan, tenggelam oleh “patah-patah” baru, hingga senjanya dan hingga suatu saat dia harus mempertanggungjawabkan apa yang telah ia perbuat tentang apa-apa yang telah ia lakukan.

Pepatah. Dulu, saat masa kecilku di desa nenek sangat suka memberikan pepatah kepadaku, cerita-cerita fabel, jenaka, legenda dan nasehat yang salah satu pepatah itu ada dikalimat terakhir di bawah ini.
Patah tumbuh hilang berganti, Esa hilang Dwi terbilang, mungkin ini adalah penutup dari segala kata-kata yang patah, Sebuah judul buku yang pernah aku baca ketika masih duduk di sekolah dasar, isinya penuh dengan filosofi, Nasionalisme, Religuisitas, semangat, kebersamaan, dan pengorbanan….tiga kali buku itu aku khatamkan, buat siapa saja yang pernah merasakan patah, but kenapa Patah tulang tidak kumasukkan ya? Akh, patah satu ini hanya patah fisik biasa…..tak perlu banyak kata-kata terangkai indah untuk mengungkapkanya…:)
Begitulah tentang patah.
Waalahualam bisshawab.
Disini aku pernah terjatuh dan patah, tapi disini pulalah aku bangkit kembali.

Zai—————-23:08, Jakarta, 1 November 2008

One Response

  1. Anonymous November 5, 2008

Leave a Reply