Dua Puluh Lima


Tepat tanggal 25, sebelum menggenapkan usiaku yang ke-25, aku mencoba menulis 25 tentang aku, 25 opini dan 25 tentang apa yang telah aku rasakan selama perjalanan hidupku menuju ke 25, mengapa dua puluh lima begitu penting, hingga harus kutorehkan disini, Pada umur dua puluh lima Rasulullah mengakhiri masa lajangnya, sebuah sinyal kematangan. Sangatlah beruntung manusia hidup hingga setengah abad, sepertiga atau satu abad, walaupun disatu sisi kadang mati muda adalah suatu yang membanggakan bagi sebagian orang (Soe Hoek Gie):
  1. Tinggi 175 cm dan berat 70 kg, setahun terakhir mengalami kenaikan yang signifikan,:).
  2. Tidak suka keramaian, tapi juga tidak ingin kesepian.
  3. Sangat sepakat apabila dikatakan bahwa merokok itu sama halnya dengan membakar uang, memotong usia dan melakukan hal yang sia-sia.
  4. Terlahir sebagai anak ke-6 dari 7 bersaudara yang mayoritas Perempuan.
  5. Menyukai hari Kamis, buah jeruk, warna biru dan hitam. Terkadang selalu berpikir bahwa yang tidak terlihat sering lebih terasa, lebih berdampak dan bahkan lebih berperan dan bahkan mungkin saja lebih memiliki nilai lebih disaat dunia ini serba ingin terlihat.
  6. Hidup nggak ngoyo, amat jarang memaksa, menjalani apa adanya saja menerima apa yang telah didapat kemudian menikmatinya dengan usaha yang telah dilakukan, kalau nggak mau dan gak bisa ya sudah.
  7. Tidak suka sinetron, apalagi sinetron-sinetron yang mengeksploitasi tangis, takhayul dan kepornoan, berbau perselingkuhan, rebutan harta, tahta dan wanita.
  8. Gemar baca, nulis dan jalan-jalan.
  9. Mempercayai bahwa kesuksesan dan kekuatan laki-laki pasti ada kelemahlembutan wanita dibaliknya, itulah paling tidak yang pernah kualami dan kubaca dari alam kehidupan, walaupun tidak pengalaman-pengalaman amat.
  10. Mimpi hari ini adalah kenyataan di hari esok, untaian tulisan Assyahid Hasan Al Bana itu kerap menyambangiku ketika aku harus terus berharap.
  11. Membaca, suatu hal yang sangat menyenangkan walaupun sejak lulus kuliah lebih senang minjam daripada beli.
  12. Menulis adalah menuangkan perasaan sehingga seluruh perasaan ini jarang tumpah keorang lain melainkan melalui apa yang telah tertulis, menulis adalah cara untuk menyejukkan hati dan merapikan kamar-kamar pikiran, mengadu logika dengan membuang sampah ke dalam tulisan dan mencatat kejutan-kejutan yang ditemukan dalam alam inspirasi, ketika belum ada tempat untuk berbagi dan bersandar.
  13. Sedang mencoba untuk mengurangi minum kopi.
  14. Rambut panjang merupakan suatu hal yang sangat mengganggu hingga terkadang rambut ini tidak pernah melewati 5 centi meter, akan tetapi kepala botak pun bukan suatu hal yang nyaman bagiku.
  15. Punya mimpi ke kota Paris bersama Some one.
  16. Almarhum Kunto wijoyo,dia inspirasi sederhana yang mencerahkan tanpa harus mengajari tak peduli sehebat apapun sastra luar karya-karya Gabriel Marques, Umberto Eco, Paulo Coelho, Orhan Pamuk, Marianne Fredriksson, Kundera, JK Rowling, Pearl S Buck, Jostein Gaarder, Marjane Satrapi dan seabrek penulis lainnya.
  17. Saat yang paling menyenangkan adalah ketika setiap saat duduk di taman tepian kolam, memandang gemericik air, membaca buku sambil menyeruput secangkir teh hangat, menikmati hembusan angin ditemani telaga insan alam.
  18. Menyentuh Hati karya Abbas Assisi buku bagus pertama yang kubaca saat aku menginjak remaja, sebuah buku yang mengesankan aku saat aku belum tahu apa-apa tentang hati dan perasaan.
  19. Saat-saat kecil adalah masa lalu tanpa beban, saat itu sulit untuk dibedakan antara mimpi, ilusi dan kenyataan, sedangkan masa sekolah dan kuliah adalah sebuah masa mengukir mimpi-mimpi nan kisah indah, masih ingat saat menjual Stiker, pakain, menjual majalah dan jualan pulsa dengan target pasar teman-teman sendiri, dengan janji dalam hati jangan sampai kuliah dan organisasi terbengkalai.
  20. Penasaran, dan masih terus saja meneliti tentang kenyamanan. Mengapa Cinta itu, apapun bentuknya selalu saja berkolerasi antara perasaan emosi dengan rasa nyaman.
  21. Pernah bercita-cita menjadi Dokter terus punya Rumah sakit sendiri.
  22. Beropini bahwa, politik selalu saja menjadi pisau bermata dua, bermain dengannya ibarat bermain api saja, tidak hati-hati akan terluka dan terbakar selalu saja dibutuhkan kesantuanan dan etika bukan manuver-manuver membabi buta yang bisa mencoreng morengkan citra.
  23. Menyukai rintik hujan, entah mengapa saat rintik hujan datang begitu membahagiakan, inspirasi ketenangan, kesejukan yang selalu menyegarkan.
  24. Menganggap setiap manusia yang dijumpai dalam hidup selalu membawa pesan. bisa jadi mereka malaikat yang menyamar yang sayapnya menjelma jadi kebaikan tiada terkira yang mungkin kita tak akan pernah bisa membalasnya.
  25. Kaya dengan kesederhanaan itulah yang selalu dipelajari ditengah budaya matrialistis, oportunis dan permisifisme masyarakat, ketika segala sesuatunya dinilai hanya dengan harta, uang dan jabatan.

Demikianlah tentang ‘dua puluh lima’, mudah-mudahan akan selalu ada hikmah dan pelajaran yang kita petik dan ambil

Leave a Reply