mengenang masa kecil.1

Aku terlahir dari kesederhanaan, dilahirkan bukan oleh perawat, bidan apalagi Dokter, aku dilahirkan oleh seorang dukun beranak, yach dukun beranak yang tinggal di umbul kampungku yang rumah-rumahnya masih panggung, maklum saja tahun 1984 di umbulku masih banyak babi hutan, beruang, macan, kera dan hewan-hewan buas. Bisa dibayangkan aku dilahirkan gimana… nyaris kayak tarzan aja ya. Masih segar ku ingat pas di atas dekat jendela ruang tamu rumahku tergantung senapan burung laras panjang yang setiap saat di gunakan untuk berburu, menembak burung puyuh dan tupai. Di balik pintu keluar rumahku ada linggis sebagai senjata buat jaga-jaga apabila ada gangguan dari binatang buas.

Masa-masa kecilku banyak aku habiskan di desa (orang lampung sungkai mengenalnya dengan istilah tiuh), bermain disawah nyari keong, dikebun nyari telor puyuh dan nangkap belalang, bermain bola bersama di lapangan yang banyak kerbaunya, bermain petasan, benteng-bentengan, kasti, gobak sodor dan perang-perangan. Betul, saat-saat kecil adalah masa lalu tanpa beban, saat itu sulit untuk dibedakan antara mimpi, ilusi dan kenyataan, semuanya tampak berwarna. Waktu kecil aku biasa makan uyek (makanan berbahan dasar singkong yang dikeringkan), bila makan nasi hal yang biasa apabila lauknya adalah genjer, jengkol, pete, pucuk daun mete, daun singkong dan sambal terasi. Mmmh… enak tau.
Sekolahku di SD sekitar 1,5 kilo meter dari rumah, aku datang kesekolah dengan berjalan kaki
terkadang saat pulang sekolah aku menendang-nendang kaleng susu dari halaman sekolah hingga sampai didepan rumah… lucu sekali, ada rasa rindu, ingin sekali kembali mengulang masa-masa kecilku itu. Pulang sekolah biasanya aku segera ganti pakaian, mandi ke kali dan pulang menjelang petang bersama teman-teman, mencari ikan, biji karet dan barang-barang bekas untuk di tukar walaupun terkadang harus kucing-kucingan dengan mamah karena takut dimarah (maafin aku ya mamah).
Di SMP kurang lebih 4 kilometer dari rumahku, terkadang aku jalan kaki kesekolah berpanas panas ria dengan sepatu yang tampak sudah ada mulutnya diatas aspal yang panas dan tanjakan tinggi jembatan pasar senen, terkadang juga aku naik sepeda jengki kesekolah atau dilain waktu ikut-ikutan jadi anak ‘nakal’ dengan menyetop truk dijalanan atau menyetop mobil apapun yang lewat, kami naik bergelantungan di mobil (resiko jatuh) dengan tidak bayar sepeser pun.
Bersambung…

Leave a Reply