Anting yang hilang

Alkisah hiduplah sepasang suami istri pengantin baru yang saling mencintai dan menyayangi disebuah rumah kecil yang sederhana. Dalam kehidupan sehari-harinya pasangan ini hidup dalam kondisi pas-pasan, jangankan untuk menabung untuk makan dan memenuhi kebutuhan primer mereka kesulitan.
Ada kejadian yang membuat istrinya bersedih karena suatu hari tiba-tiba ia kehilangan sebelah dari antingnya, setelah dicari kian kemari kemana-mana akan tetapi sebelah antingnya yang hilang itu tidak juga ditemukan. Melihat kesedihan istrinya tentu saja si suami turut bersedih, ingin rasanya ia membelikan istrinya sepasang anting yang baru, namun apalah kata jangankan untuk membeli sepasang anting baru untuk membeli sebelah anting saja ia tidak mampu.
Akhirnya, hari berganti hari berjalan seperti biasa, istrinya pun mengikhlaskan anting sebelahnya yang hilang itu dan kemudian menyimpan sebelah antingnya yang satu lagi, siapa tahu meskipun tidak berharap banyak mereka bisa menemukan kembali anting yang hilang atau bila ada rejeki lebih mereka bisa membeli anting yang sebelahnya lagi. Karena belum juga dapat mengumpulkan uang yang cukup, suaminya belum bisa membelikan anting sebelah dari istrinya padahal dilubuk hati yang paling mendalam sebagai bentuk cinta dan kasih sayangnya kepada istrinya ia sangat ingin sekali membelikan sebelah anting istrinya yang hilang itu.
Pada suatu hari, diperjalanan ketika berangkat bekerja karena sudah terlalu banyak tambalan pada ban sepedanya tiba-tiba ban sepeda bagian depannya bocor, karena tidak ada uang untuk membeli ban sepeda yang baru sepeda pun dibawa pulang kerumah dalam keadaan kempes.
Tentu saja kejadian itu membuat istrinya merasa sedih dan kasihan kepada suaminya hingga akhirnya pada suatu hari tanpa sepengetahuan suaminya si istri menjual sebelah antingnya untuk kemudian dibelikan sepasang ban sepeda yang baru untuk diberikan kepada suaminya yang sangat ia sayangi. Pada saat pulang sang istri dengan hati yang menggebu gebu ingin segera membahagiakan dan menyemangati suaminya yang setiap hari harus melakukan perjalanan kaki yang jauh untuk bekerja, dengan bahagianya ia membawakan sepasang ban sepeda yang akan ia berikan kepada suaminya tercinta.
Setelah tiba dirumah suaminya sudah berada diruang tamu sambil menunggu istrinya dengan raut wajah bahagia, sepeda yang selama ini menemaninya bekerja telah ia jual untuk membeli sebelah anting istrinya yang sudah lama ia idam-idamkan.
“Sebuah kisah yang menggugah, semoga menjadi contoh kecil dan pelajaran, karena niat yang baik tanpa adanya komunikasi yang baik terkadang menghasilkan hal yang tidak sesuai dengan harapan”.
Waalahu a’lam bisshawab.

10 Comments

  1. rima ulfayanti hasan July 22, 2010
  2. Zainudin Hasan,SH,MH July 22, 2010
  3. rima ulfayanti hasan July 22, 2010
  4. Zainudin Hasan,SH,MH July 22, 2010
  5. rima ulfayanti hasan July 22, 2010
  6. Zainudin Hasan,SH,MH July 22, 2010
  7. om rame July 23, 2010
  8. Zainudin Hasan,SH,MH July 23, 2010
  9. om rame July 26, 2010
  10. Zainudin Hasan,SH,MH July 26, 2010

Leave a Reply