Pemimpin Idaman Rakyat

Pemimpin Idaman rakyat
Zainudin Hasan*
Mahasiswa Magister Hukum Universitas Indonesia
Ia terkenal sebagai pemuda kaya, mapan dan rupawan. Pandai berdandan, hingga suatu waktu banyak menghabiskan waktunya bersisir dicermin sehingga sering terlambat datang kemasjid, pakaiannya mewah, wangi dan mahal sehingga pada saat pakaiannya dicuci bekas air cuciannya pun masih wangi sehingga banyak orang yang mengambil air bekas cucian itu. Ia dibesarkan dalam keluarga yang hidup mewah, makanan yang berlebihan dan gaya hidup yang boros.
Akan tetapi tanggung jawab dan amanah membawanya berubah seratus delapan puluh derajat begitu selesai dilantik menjadi seorang pemimpin negara pada saat itu, ia secara total melakukan perubahan besar, ia mengembalikan seluruh harta pribadinya, baik berupa uang maupun barang dan emas, ke kas negara, termasuk seluruh pakaiannya yang mewah. Ia juga menolak tinggal di istana, ia tetap menetap di rumahnya yang sederhana. Pola hidupnya berubah secara total, dari seorang pencinta dunia menjadi seorang zahid yang hanya mencari kehidupan akhirat yang abadi. Sejak berkuasa ia tidak pernah lagi tidur siang, mencicipi makanan enak. Akibatnya, badan yang tadinya padat berisi dan kekar berubah menjadi kurus.
Setelah ia memangku jabatan sebagai pemimpin, saat itu juga ia meluluh lantakkan kebiasaan buruk pemimpin generasi sebelumnya yang hidup korup, mewah dan boros. Tidak ada lagi orang miskin pada masa pemerintahannya, itu bisa dilihat dari ketika para petugas pemberi zakat hingga kepojok-pojok perkampungan tidak ada lagi yang menerima zakat karena semua rakyat pada pemerintahannya makmur dan sejahtera, bahkan sampai-sampai hutang-hutang pribadi dan biaya pernikahan warga ditanggung sepenuhnya oleh negara. Keadilan ditegakkan, koruptor dihukum berat, penguasa dan pejabat yang zalim dipecat dan mengangkat yang lebih layak untuk memperbaiki kinerja dan mensejahterakan masyarakat. Kehidupan negara tampak “gemah ripah loh jinawi” bahkan karena sangat begitu makmurnya negara ini seorang penyair mengatakan serigala dan kambing pun bisa berdampingan dan hidup bersama di padang rumput yang sama. Pemimpin yang adil itu adalah Umar bin Abdul Aziz, seorang khalifah yang karena keistimewaannya disematkan kepadanya sebagai khalifah kelima.
Contoh diatas menjadi pelajaran besar bagi kita, bagi para pemimpin dan penguasa dinegeri ini. Sebuah tesis, mengapa di negara makmur dan kaya ini, dengan tambang emas, gas alam, minyak dan hasil bumi melimpah ruah masih saja sebagian besar rakyat nya hidup miskin. Perampokan dan kriminalitas dimana-mana, koruptor melenggang bebas tersenyum lepas seperti artis infotainment melambaikan tangannya dikamera wartawan dan televisi. Pengusaha besar menjadi penjilat penguasa, harta lebih dihormati daripada kejujuran, pangkat dan jabatan lebih dihargai daripada kesederhanaan, uang dan kekuasaan adalah segala-galanya. Pemimpin sibuk menghalalkan segala cara untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaannya, pengangguran dimana-mana, rakyat kecil yang bodoh semakin dibodohi, sedangkan rakyat kecil yang pintar tidak diperhatikan dan diberdayakan sebagaimana mestinya.
Oleh penguasa mental rakyat dibuat bermalas-malasan dan santai bekerja tapi ingin mendapatkan uang dengan mudah dan banyak, mental oknum aparat yang minta dilayani padahal seharusnya melayani menjalar seperti virus, kecilnya penghasilan dijadikan pembenaran (justifikasi) untuk bermalas-malasan bekerja dan bolos dari kantor sementara disisi yang lain ada ratusan ribu orang pengangguran setiap tahun mencari kerja, mimpi menjadi PNS dengan menyuap para pengambil keputusan sampai ratusan juta rupiah menjadi percakapan resmi menjelang penerimaan pegawai, jalan rusak dimana-mana dan seribu satu macam masalah lainnya mencengkram negeri ini, entah sampai kapan dapat segera diselesaikan dengan baik apabila keadilan masih dicampakkan dan menutup diri dari hati nurani dan kebenaran. Sebuah Ironi di negeri kaya.
Kembali kecerita diatas dengan melihat terobosan-terobosan besar yang dilakukan oleh Umar bin Abdul Aziz sebenarnya ada tiga hal pokok utama yang dilakukan olehnya, dari tiga hal pokok itu dua diantara nya adalah bidang hukum dan satu lagi adalah dari sisi ekonomi dan keadilan:
Pertama adalah penegakan hukum (law enforcement), pertama-tama pada awal menjabat yang dilakukan oleh Umar bin Abdul Aziz adalah mengembalikan hak-hak rakyat yang dirampas dan diberikan kembali hak yang semestinya ia dapatkan, pejabat yang zalim ditindak tegas dan diberi hukuman yang berat, para penegak hukum yang terlibat mafia peradilan diberantas dan dipecat. Langkah pertama itulah yang menunjukkan pembersihan instansi dan lembaga dari pejabat-pejabat kotor dan berperilaku buruk sehingga akan berdampak kepada kinerja dalam melakukan kerjanya karena yakinlah sapu yang kotor tidak akan pernah bisa membersihkan lantai yang kotor.
Langkah Kedua adalah pemberantasan korupsi, hal ini dilakukan Umar mulai dari keluarga dan kerabat-kerabat dekatnya hingga kemudian membersihkan pemerintahan dengan memecat dan menghukum pejabat yang terbukti korupsi, memberikan efek jera kepada para pelaku korupsi itu bukan malah memberikan potongan hukuman (remisi) atau mengakomodir kepentingannya, bahkan membiarkan koruptor bebas melenggang dan bisa terpilih menjadi pejabat seperti dinegeri ini. Sebuah paradoks dalam setiap kampanye pemberantasan korupsi yang selalu didengung-dengunkan dalam setiap pidato presiden.
Ketiga adalah pemerataan pembangunan, harta benda pejabat kaya dan boros termasuk dirinya sendiri disita dan diberikan kekas negara, rakyat kecil dilindungi dan diberikan hak-haknya, pendidikan dan kesehatan gratis untuk semua rakyat, pemerataan pembangunan dilakukan diberbagai sisi bidang dan daerah hingga kepojok-pojok terpencil, tidak ada kesenjangan sehingga roda ekonomi seolah-olah berputar pada satu titik saja. Sehingga tidak heran dikisahkan pada masa itu ketika para petugas pemberi zakat berkunjung hingga kepojok-pojok kampung Afrika tidak ada seorangpun bersedia menerima zakat karena rakyat semuanya sudah makmur dan sejahtera.
Demikianlah terobosan yang dilakukan oleh pemimpin bersahaja sekaliber Umar, rindu rasanya menemukan pemimpin berkarakter seperti itu, seorang pemimpin yang rela berkorban dan melayani rakyatnya bukan justru minta dilayani oleh rakyatnya, pemimpin yang egaliter bukan pemimpin elitis yang tunduk pada kepentingan pengusaha pemilik modal, pemimpin yang hanya sekedar lewat saja harus menggunakan patroli pengawalan iring-iringan (voorijder) ekstra ketat dan panjang. Pemimpin seperti ini ada didalam setiap momentum sejarah, entahlah untuk para pemimpin kita apakah mereka tetap mementingkan kroni-kroninya, dikendalikan oleh tim sukses, manut pemilik modal atau menjadi pemimpin yang mampu membuat sejarah baru, pemimpin yang menjadi dambaan dan harapan bagi rakyatnya.
Waalahualam bisshawab.

Leave a Reply