Surat untuk Pak Beye-1

“Mereka rusak rumah kami”

Pak Beye, Perkenalkan keluarga kami, kami memiliki rumah yang besar, unik, indah dan nyaman…di dalam rumah ini hidup bersama keluarga beraneka ragam yang berbeda-beda latar belakang dan pemikiran, karena kami terdiri atas beberapa orang yang berbeda sifat, berbeda pemahaman dan karakter, serta berbeda kebiasaan, bahkan berbeda dalam bersikap dan bertindak. Namun, walaupun kami berbeda-beda dalam satu rumah hari-hari kami jalani secara bersama-sama dengan damai dan indah, hidup berdampingan dalam kebersamaan dan kebahagiaan, tak ada konflik berarti diantara kami tapi justru perbedaan membuat kami menjadi lebih dewasa, bertoleransi, tenggang rasa, tepa selira, saling menjaga, memperbaiki, melengkapi kekurangan dan saling menguatkan.
Suatu hari datanglah orang lain berkunjung kerumah kami yang besar ini, orang tersebut bermaksud untuk menumpang di rumah di tempat kami berada, tentu saja dengan senang hati kami menerima dan mempersilahkan serta melayani tamu kami dengan baik… sepenuh hati, segenap jiwa, sopan santun dan ramah tamah seperti hal yang biasa kami lakukan pada semua orang, menjunjung tinggi persaudaraan, kebersamaan, kekeluargaan dan kasih sayang antar sesama.
Namun tidak lama berselang orang yang tinggal dirumah kami itu dengan fakta dan data yang gamblang sedikit demi sedikit baik diam-diam maupun terang- terangan telah merusak rumah kami, pondasi rumah kami yang merupakan sandaran kekuatan rumah kami dirusak, digantikan dengan pondasi lain yang tidak sesuai dengan pandangan kami dengan manipulasi membiarkan tanpa merubah dinding dan atapnya…namun menggrogoti pondasi rumahnya, bisa ditebak rumah kami bisa saja sedikit demi sedikit roboh ambruk ketanah, kami khawatir pada rumah yang kami cintai ini. Tak sampai disitu, tidak hanya merusak rumah kami, orang yang menumpang dirumah kami itu juga mengajak orang lain untuk juga untuk mengacak-acak rumah kami.. menodai kamar-kamar rumah kami yang telah kami jaga dan kami pelihara dengan baik.
Sebagai pemilik rumah, kami sudah melakukan dialog yang sehat dan baik… menghargai dan menasehati orang-orang yang telah merusak rumah kami dengan cara yang benar, dengan ilmu pengetahuan dan dengan cara yang manusiawi…… dialog ini sudah kami lakukan sudah sejak lama, lama sekali dan sangat lama hingga hitungan puluhan tahun sejak orang itu datang kerumah dan dan tiba-tiba merusaki rumah kami.
Dialog yang baik sudah kami lakukan… kini saat nya kami memberi nasehat dan peringatan yang baik dengan cara yang baik…. namun tak dinanya, orang-orang itu tetap merusak rumah kami tempat kami tinggal bahkan semakin berani melawan kami. Rasanya betapa begitu lemahnya kami pemilik rumah ini andai tidak bisa membela rumah kami yang telah kami tempati yang seharusnya kami jaga sebaik-baiknya….. betapa lemahnya hati dan iman kami ketika rumah kami dinodai dan dihancurkan tapi kami hanya diam atau sekedar mengingatkan saja. Kurang bersabarkah kami…..Salahkah bila kami marah karena membela rumah kami…. salahkan kami melakukan tindakan tegas terhadap orang-orang yang telah merusak rumah kami….. salahkah kami menegakkan yang memang sudah menjadi hak kami.
Kini…..kami lagi-lagi menyarankan sekali lagi……. “Keluarlah dari rumah kami dan buatlah rumah sendiri dan mari kita hidup berdampingan yang baik antar tetangga”, atau tetaplah tinggal dirumah kami, berhentilah merusaknya dan jadikan rumah ini rumah kita yang kita jaga dan kita cintai bersama dengan baik serta ikuti aturan dasar rumah kami dan mari hidup berdampingan secara damai”. Bila tidak memilih salah satunya, kami mempunyai hak bertindak tegas sesuai aturan dalam rumah tangga kami. Ini rumah kami, Islam.**
Waalahualam bisshawab…

Leave a Reply