Menikmati Cinta

Dikisahkah ketika Rasulullah SAW dan Abu Bakar RA berangkat dari Kota Mekkah untuk ke kota Yatsrib atau Madinah dalam rangka menjalankan perintah Allah untuk melaksanakan Hijrah, perjalanan ini sangatlah membutuhkan waktu relatif lama dan melelahkan, untuk diketahui bahwa jarak antara Kota Mekkah dan Madinah sangatlah jauh sekitar 600 kilometer, bisa dibayangkan jauhnya perjalanan saat itu ketika harus ditempuh dengan berjalan kaki ditengah-tengah padang pasir dan bebukitan batu yang panas, gersang dan tandus.

Saat itu Rasulullah dan Abu Bakar melakukan perjalanan dalam suasana kering dan meranggas, hingga ketika ditengah perjalanan karena merasa cukup lelah mampirlah Rasulullah dan Abu Bakar sejenak disebuah gua yang dinamakan dengan gua Tsur, gua Tsur adalah gua dari batu sempit yang berada di puncak sebuah bukit dengan perbukitan yang terjal dan tandus serta ditengah-tengah gurun pasir yang panas nyaris tak bertepi.

Ketika Rasulullah dan Abu bakar di tiba gua Tsur, Abu Bakar dengan penuh kesetiaan terlebih dahulu masuk kedalam gua dan membersihkan ruangan-ruangan gua dari hal-hal yang membahayakan Rasulullah, setiap sudut-sudut gua dibersihkan oleh Abu Bakar menggunakan pakaiannya jangan sampai ada hewan atau binatang kecil sekalipun yang bisa mengganggu kenyamanan istirahat Rasulullah, setelah dirasa bersih dan aman barulah Abu Bakar mempersilahakan Rasulullah untuk masuk dan beristirahat di dalam gua.

Karena lelah dan jauhnya perjalanan yang ditempuh akhirnya Rasulullah tertidur dengan lelapnya dipangkuan Abu Bakar, namun tiba-tiba ditengah istirahat Rasulullah, datanglah seekor ular yang mendesis melewati tempat Rasulullah dan Abu Bakar beristirahat, karena khawatir Rasulullah terbangun dari tidurnya Abu Bakar tetap tidak bergerak dan berubah dari tempat duduknya sehingga kemudian akhirnya kaki Abu Bakar pun digigit oleh ular tesebut sampai kemudian ular kemudian berlalu dan pergi Abu Bakar masih tetap tidak bergeming dari tempatnya, sampai begitu perih dan sakitnya gigitan ular itu hingga Abu Bakar sampai menangis menitikkan air mata hingga jatuh kepipi Rasulullah. Ketika bangun, tentu saja Rasulullah keheranan apa yang terjadi dengan sahabat yang dicintainya itu, setelah mendengar cerita dari Abu Bakar barulah Rasulullah tahu dan sangat terharu melihat betapa cinta dan sayangnya Abu Bakar kepadanya hingga berani berkorban agar Rasulullah tidak terganggu dari lelap tidurnya. Melihat Abu Bakar menitikkan air mata, dengan penuh rasa cinta dan kasih sayang Rasulullah mengobati sahabatnya itu, dan dengan cinta dan kasih sayang Rasulullah pula atas IzinAllah sakitnya kaki Abu bakar hilang dan sembuh dengan sempurna.

Sahabat, begitulah cinta. Begitu kuat dan dalam cintanya Abu Bakar kepada Rasulullah sehingga ia mampu dan mau untuk lebih memilih merasakan rasa sakit, rasa sakit itu lebih ia pilih ketimbang ia menyakiti orang yang ia kasihi dan sayangi.

Begitulah cinta, ada beribu defenisi tentang cinta yang terejawantah lewat lagu, puisi dan kata-kata… namun cinta lewat perbuatan nyata, mata yang ceria, dan senyuman yang menyejukkan jiwa akan semakin lebih bermakna meski tanpa balutan kata-kata.

Dalam kondisi apapun cinta, mari kita rayakan dan nikmati. Menikmati cinta, karena rasa sakit yang terkadang melanda dalam cinta adalah salah satu cara untuk menguji dan mengevaluasi seberapa dalam cinta kita, kebahagiaan dalam perjuangan yang terukir dalam hitungan kurun waktu melewati masa-masa dimana dibutuhkan suka duka, pahit manis, sedih dan bahagia sebagai bumbu-bumbu penyedap rasa dan koreksi pelajaran hidup tentang cinta dalam setiap episode kehidupan.

Leave a Reply