Kolektifitas

Delapan tahun lalu, tepatnya tahun 2003 pada saat awal masuk menjadi mahasiswa baru di Fakultas Hukum Universitas Lampung. Tulisan ini dibuat selain untuk menggali kembali memori lamaku saat dikampus juga paling tidak sedikit mengobati kerinduanku pada dunia kampus yang sempat membesarkanku, tempatku menimba ilmu, tempat beraktifitas dan mengembangkan diri yang sudah cukup lama aku tinggalkan.

Dalam sebuah pelatihan Manajemen Kepemimpinan, kala itu membahas tentang materi (kalau tidak salah…:) “kepemimpinan diri dan kelompok”, kami diberikan sebuah materi yang didalamnya ada sebuah konsep kerja sama (amal jama’i) yang di demonstrasikan kedalam sebuah permainan ringan sebagai ice breaking pembuka dalam sebuah pelatihan. Saat itu materi pelatihan dibawakan oleh Bang Anton Rizal Setiawan, salah satu putra terbaik Fakultas Hukum Universitas Lampung yang saat ini beliau telah menjadi seorang Hakim (Bang..mudah-mudahan ente senantiasa berkomitmen demi tegaknya hukum dan keadilan di Negara Republik Indonesia yang kita cintai ini..:), tanpa pandang bulu).

Sebelum materi dimulai ada sebuah permainan kolektif, kami dibagi menjadi beberapa kelompok dan masing-masing kelompok diberikan satu kotak kartu. setelah setiap kelompok menentukan pemimpinnya masing-masing, oleh pemateri kami ditugaskan untuk menyusun satu kotak kartu tersebut menjadi sebuah bangunan dengan kriteria: bangunan yang tinggi, indah dan kuat/kokoh. Dalam waktu yang terbatas kami harus menyelesaikan tugas kelompok dengan hasil yang maksimal dan dengan kriteria yang telah disebutkan tadi. Namun, nampaknya waktu yang tersedia tidak cukup untuk membuat bangunan yang tinggi, kokoh dan indah itu, karena waktu lima belas menit yang diberikan kepada kami tidak cukup.

Ternyata tidak mudah. Diskusi justru baru dimulai ketika diawal pengerjaan, pembicaraan bangunan apakah yang akan dibuat sampai pada pertanyaan-pertanyaan kecil dan sepele mengenai bolehkan melipat kartu, apakah boleh dibuat diatas meja, kartunya harus vertikal atau harus horizontal dan sebagainya. Setelah tercapai kesepakatan untuk membuat bangunan piramida, ternyata masalah tidak selesai begitu saja, terkadang hanya karena ada kesalahan dari salah seorang anggota kelompok sehingga bangunan yang seharusnya hampir selesai menjadi roboh dan harus memulainya dari awal kembali, begitu seterusnya, selain itu ada beberapa rekan yang ‘tidak kebagian’ tugas hanya melamun tanpa kontribusi atau sekedar menyalahkan saja. Sampai waktu selesai, tidak ada satu kelompokpun yang bisa menyelesaikan tugas yang diberikan. Hmmm…….Ternyata tidak mudah dalam bekerja sama, walau hanya membuat bangunan kecil dari sebuah kartu.

Itu hanya sekelumit materi yang pernah ku dapatkan, yang hikmahnya tentu saja setiap orang bisa memiliki sudut pandang yang berbeda dalam hal memandang suatu teori kedalam ranah aplikatif didunia nyata baik mengenai kerjasama, kepemimpinan, hubungan sosial maupun dalam konteks sistem organisasi, namun ada satu hal mendasar yang kudapatkan bahwa -Didalam sebuah pekerjaan kolektif terkadang kesalahan pribadi akan berdampak kepada bangunan itu, baik itu bangunan organisasi, jamaah maupun instansi tempat kita berada.- bangkit dan robohnya suatu sistem atau bangunan merupakan hasil kontribusi dan peran individu didalamnya. Begitulah.

“Terkadang, kita terbiasa untuk mencari kesalahan orang lain, berlindung dari kesalahan atau kekhilafan orang lain namun alangkah baiknya bila kita berusaha untuk belajar dari kesalahan itu dan kembali bangkit memperbaiki kesalahan, serta berusaha untuk tidak mengulangi sebuah kesalahan yang serupa”.

Waalahu’alam bisshawab.

Leave a Reply