Damri Lampung

Kendaraan langgananku
Tiga tahun sudah aku naik kendaraan ini, pulang dan pergi dari Jakarta ke Lampung dan sebaliknya dari Lampung ke Jakarta, sebagai kendaraan lintas Provinsi yang selalu dengan setia tanpa kenal bosan, jenuh ataupun lelah mengantarkan para pekerja sepertiku dari jakarta atau beberapa penumpang yang transit maupun para penumpang yang sengaja menggunakannya sebagai alat transportasi alternatif selain kendaraan umum lain, travel ataupun kendaraan pribadi. Untuk pulang ke Bandar Lampung terkadang aku naik Travel, seperti travel Purnagama yang bisa mengantarkaku sampai ke peraduan yang berada di Setiabudi Jakarta Selatan, terkadang pula aku ngeteng (istilah yang digunakan bila pulang dengan cara berpindah-pindah kendaraan umum) dengan menunggu bus dipintu Tol keluar kebon jeruk, namun dibandingkan dengan naik travel dan ngeteng aku lebih sering naik kendaraan Damri, karena aku rasa jauh lebih merasa nyaman untuk beristirahat apabila pulang pada waktu malam.

Di dalam Damri tidak jarang bila bertemu dengan orang-orang yang juga sering pergi dan pulang menggunakan kendaraan ini, ada beberapa diantara meraka yang tinggal di Lampung dan bekerja di Jakarta bahkan tidak jarang pula yang lokasi tempat tinggalnya berdekatan denganku karena bekerja di daerah sekitar Kuningan dan Sudirman, tidak jarang ada obrolan kecil pengantar tidur antara teman sebangku hingga kemudian berpamitan untuk saling terlelap, saat itulah kendaraan Cepat terbatas ini membelah malam yang dingin dan membawa kami untuk segera sampai di tujuan.

Damri adalah angkutan yang cukup tua, bahkan berdiri sejak zaman jepang, ini dimulai dari tahun 1943, terdapat dua usaha angkutan di jaman pendudukan Jepang Jawa Unyu Zigyosha yang mengkhususkan diri pada angkutan barang dengan truk, gerobak/cikar dan Zidosha Sokyoku yang melayani angkutan penumpang dengan kendaraan bermotor/bus. Tahun 1945, setelah Indonesia merdeka, dibawa pengelolaan Kementrian Perhubungan RI, Jawa Unyu Zigyosha berubah nama menjadi “Djawatan Pengangkoetan” untuk angkutan barang dan Zidosha Sokyoku beralih menjadi “Djawatan Angkutan Darat” untuk angkutan penumpang.
Pada tanggal 25 November 1946, kedua jawatan itu digabungkan berdasarkan Makloemat Menteri Perhoeboengan RI No.01/DAM/46 dibentuklah “Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia”, disingkat DAMRI, dengan tugas utama menyelenggarakan pengangkutan darat dengan bus, truk, dan angkutan bermotor lainnya. Tahun 1982, Damri beralih status menjadi Perusahaan Umum (Perum) berdasarkan PP No.30 Tahun 1984, selanjutnya dengan PP No. 31 Tahun 2002, hingga saat ini. Dimana Perum Damri diberi tugas dan wewenang untuk menyelenggarakan jasa angkutan umum untuk penumpang dan atau barang di atas jalan dengan kendaraan bermotor. Untuk ongkos Damri kelas Bisnis dikenakan tarif Rp. 115.000,- sedangkan untuk kelas eksekutif dikenakan tarif Rp.150.000,-. Di Jakarta pool Damri berada di Stasiun Gambir cukup dekat dengan Monas (Monumen Nasional), sedangkan di Bandar Lampung pool Damri berada di Stasiun Tanjung Karang tepat berada di samping bangunan Bambu Kuning plaza yang sampai saat ini belum selesai dibangun. Pada malam hari jam keberangkatan bus Damri adalah pukul 20:00 dan Pukul 22:00 WIB, walaupun lebih sering terlambat dari jadwal, sedangkan untuk siang hari jam keberangkatannya adalah pukul 08:00 dan pukul 10:00 Pagi.

Malam ini, aku harus kembali ke Lampung untuk bertemu jagoan kecilku..:) dan sekarang kembali naik kendaraan langgananku ini, Damri tujuan Bandar Lampung.! Bismillahirrohman nirrohiim. (dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang). Tarikk Pir..🙂

Leave a Reply