Seruit

Juli 2011. Terkadang ada rasa rindu menyelinap didalam hatiku akan tempat kelahiran, setelah sekian lama tidak pulang kekampung halaman, di Desa Negara ratu Lampung utara, bulan ini akhirnya bisa kesampaian juga, ritual tahunan pulang kampung yang biasa hanya kulakukan saat pulang lebaran tapi tidak untuk saat ini, Alhamdulillah ada acara aqiqah dan marhaba jagoan kecilku Ruzain Ghaaziy Al Hasan dikampung sehingga akhirnya ada waktu pulang kampung juga, saat yang paling ditunggu-tunggu dan sudah direncanakan beberapa minggu yang lalu akhirnya kesampaian juga.

Perjalanan dimulai saat berangkat dari Jakarta ketika matahari beranjak melewati tengah hari di hari Selasa aku berangkat menuju Kota Bandar Lampung sebagai tempat transit semalam, sebenarnya perjalanan Jakarta- Bandar Lampung bila melalui jalur darat bisa ditempuh hanya dalam waktu 6 sampai dengan 8 jam perjalanan, namun karena kondisi jalan Tol di Banten yang tak pernah selesai, pelabuhan yang selalu macet, kapal-kapal besar Roro yang sudah terlalu tua, serta jalan-jalan di lintas Sumatra yang rawan longsor membuat perjalanan menjadi lebih lama, bahkan bisa mencapai 12 jam perjalanan. Adalah pemandangan yang biasa ketika di pelabuhan Merak dan Bakauheni ada ratusan truk-truk besar tersungut-sungut antri sampai berpuluh-puluh kilometer untuk masuk kedalam perut kapal yang lamban, entah sampai kapan antrean ini bisa dapat teratasi, sementara Jembatan selat sunda rasanya masih sekedar menjadi mimpi, ketika melihat kenyataan dan realitas, fasilitas yang telah adapun tak terpelihara dan terjaga dengan baik.

Menjelang tengah malam, aku sampai di Kota Bandar Lampung sebagai akibat lambatnya antrian kapal Roro untuk bersandar di dermaga Bakauheni, selain itu terjadinya kelangkaan bensin membuat SPBU-SPBU di Lampung kehabisan BBM, kalaupun ada pasti penuh oleh antrean kendaraan bermotor. Badan lengket dan bau keringat memaksaku untuk mandi malam, makan kemudian istirahat lalu bersama lelap melepas kepenatan setelah seharian dalam perjalanan panjang, sebuah perjalanan yang benar-benar melelahkan.
Rabu pagi, keberangkatan dari Bandar Lampung untuk ‘Mulang Tiyuh’ ke Negararatu, semua peralatan dan perlengkapan yang akan dibawa sudah lengkap, berharap tak ada yang tertinggal aku, istriku, Ghaziy, Ibu mertua dan adik berangkat pukul 8 pagi, pulang kampung dengan membawa bayi untuk waktu sebulan otomatis membuat kami seperti pindah rumah. Kijang innova yang lumayan besar harus ‘penuh sesak’ oleh barang-barang ‘pindahan’ Ghaaziy, mulai dari bantal, kasur, bak mandi, persediaan susu, termos, kereta dorong, hingga keperalatan kecil-kecil semua dibawa, keberangkatan pun dimulai dengan Bagasi belakang mobil ‘semok pool’ oleh barang-barang bawaan.

Jarak tempuh normal dari Bandar Lampung ke Negara Ratu adalah 3 jam perjalanan, namun karena kondisi jalan yang kurang baik yang penuh lubang dan berdebu biasanya membuat laju kendaraan menjadi lebih lambat, beruntung Ghaziy tidak rewel sehingga perjalanan bener-benar bisa kami nikmati. Perjalanan yang sedari pagi hingga tengah hari membuat perut kami lapar, pembicaraan demi pembicaraan berlalu sehingga akhirnya diusulkan untuk mampir sejenak dirumah makan untuk mengganjal perut yang sudah mulai keroncongan. Tibalah kami di Kotabumi dan mampirlah kami sebentar di rumah makan Omega, rumah makan Omega (singkatan dari Orang Menggala Asli) adalah rumah makan khas Lampung yang terletak di Jalan Alamsyah Ratu Perwira Negara No.395 Kotabumi, Lampung Utara. Mengapa warung makan ini dibilang khas Lampung? karena warung makan ini ada menu khasnya yang bernama Seruit. Apakah itu seruit?, ya seruit adalah makanan khas Lampung. Bila teman-teman ingin tahu lebih dalam mengenai seruit, ini adalah penjelasan mengenai seruit:

seruit+lampungSeruit adalah lauk makan dari bahan dasar Sambal yang diramu atau diberi campuran, bumbu dan sayur-sayuran khas Lampung, lengkapnya begini : Sambal yang sudah digiling halus biasanya dicampur terasi, diberi ikan (lebih nikmat bila ikan bakar), terong bakar, tempoyak, kedondong dan belimbing sebagai tambahan, untuk menikmatinya terlebih dahulu dengan cara mencampurnya menjadi satu sehingga ada rasa campur-campur yang khas dari Seruit, bisa anda bayangkanlah…. ada pedas, manis, asam, dan sedap rasanya beradu menjadi nikmat menggoyang-goyang lidah. Konon seruit ini sangat mujarab sekali sebagai obat (Obat lapar bagiku… hahaaa).

Sebagai pelengkap kami memesan pindang dan pepes ikan baung (ikan patin), khusus didatangkan dari sungai di Negeri Besar (Kabupaten Way Kanan). Sayur pindang patin yang masih hangat, pepes ikan patin ditambah seruit yang diramu dengan tepuyak plus lalapan lengkap… hmmm… benar-benar rasanya mantabs! Bila tak percaya cobalah datang dan rasakan sendiri.
Tambahko uyah lalak jama tiyung temukpul campogh iwa baung jama tepuyak, lauk pauk lengkap: petagh, jeghing, kemangi, tiyung, belimbing, kedundung, kucuk jambu midi jama kucuk kikim………. mati bangik wah!
Bismillahirrohmanirrohim…
Makanlah kami dengan lahap, sambal seruit bikin aku sampai nambah dua kali,,, hehee
Alhamdulillahirobbal ‘alamiin.

Leave a Reply