Melawan Kebohongan

Kata orang bijak, apabila kita mengatakan satu kebohongan maka kebohongan itu pasti akan di ikuti oleh rangkaian kebohongan-kebohongan berikutnya untuk menutupi kebohongan yang telah ada dan kemudian dari perilaku bohong tadi akan membentuk sebuah karakter.

Terkadang selalu ada rasa ragu dan tidak percaya kepada orang yang pernah berbohong kepada kita, padahal stempel bohong seharusnya tidak bisa dipasangkan pada seorangpun seperti halnya stempel pencuri, koruptor, pembunuh dan perilaku negatif lainnya karena setiap saat orang memiliki hak untuk berubah, baik berubah menjadi lebih baik ataupun sebaliknya karena kadar keimanan dan setiap hati seseorang mengalami fluktuasi tidak menentu tergantung pada kecendrungan kedekatannya pada kebaikan atau keburukan. Karena kesalahan dan kekhilafan merupakan bentuk perilaku sehari hari yang ada pada setiap diri manusia yang menyimpang.

Sekarang pertanyaannya adalah :Adakah manusia yang tidak pernah berbohong dalam hidupnya? Ini pertanyaan yang kupikir Jawabannya hampir tidak ada..,namun layakkah kekhilafan menjadi sebuah pembenaran, kupikir jawabannya pun tidak. Karena antara batas khilaf dan pendusta sangatlah terang benderang jelasnya.

Adakah kebohongan-kebohongan yang dibuat oleh orang-orang yang terhormat, kebohongan yang dibuat oleh seorang pejabat negara. Kebohongan yang dibalut dengan janji-janji manis atau kata-kata lantang dimedia… dan dengan tanpa rasa malu mengulangi kebohongan-kebohongan itu sebagai bahasa sehari-harinya. Naif sekali bila ada kata, “tak mengapalah berbohong, rakyat ini begitu mudah lupa dan begitu gampang menjadi pelupa… tak apalah berbohong, rakyat ini telah terbiasa dibohongi”. Kemudian kebohongan-kebohongan itu akhirnya hilang dan tenggelam ditelan oleh banyak kebohongan-kebohongan lainnya.

Begitu banyaknya kebohongan sampai pada titik ketika kebohongan-kebohongan itu muncul dari orang-orang yang terkadang kita percayai, kebohongan itu keluar justru dari mulut dari orang-orang yang telah dipilih. Kebohongan-kebohongan itu setiap hari dipertontonkan didepan media dan televisi, seperti halnya sinetron dan reality show yang penuh dengan kebohongan berulang-ulang dan anehnya kita masih saja percaya dan menikmati saja kebohongan-kebohongan itu.

Terkadang kita jengkel dan mengkritik keras kebohongan itu, akan tetapi itu hanya luapan sesaat, euforia… kita terlalu mudah menari digendang orang, tapi kemudian lupa tanpa sadar telah menyanyikan lagu dan bahasan baru, melupakan apa yang telah kita dengungkan tanpa menuntaskannya. Itulah kelemahan kita, kita begitu mudah dibohongi karena kita punya penyakit, penyakit itu adalah lupa, entah lupa karena terlena atau lupa karena sengaja melupakannya.
Waalahualam bisshawab.

Leave a Reply