Menelusuri Jejak Perjuangan MH. Thamrin Di Musium MH. Thamrin

Biografi Singkat MH Thamrin

Patung MH Thamrin yang ada tepat didepan Museum

Mohammad Hoesni Thamrin lahir di Kampung Sawah Besar tanggal 16 Februari 1894 Ibunya bernama Nurhana dan Ayahnya Thamrin Mohammad Thabrie pernah menjadi Wedana Batavia pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Van Der Wijk pada tahun 1908. Kakeknya yang berdarah campuran Betawi-Portugis adalah jaksa terkemuka yang menikah dengan wanita Betawi bernama Nuraini. Sejak duduk di bangku HBS (Hogere Burgerschool) Thamrin muda sudah magang di kantor Patih Batavia dan kemudian bekerja di perusahaan pelayaran terbesar di Hindia Belanda KPM afdeeling Boekhouding. Awalnya MH Thamrin bergabung pada Batavia Berichiar sekitar tahun 1920, perkumpulan ini yang kemudian menjadi inti perkumpulan kaum Betawi. Karir Thamrin terus menanjak, pada tahun 1923 Thamrin kemudian diangkat sebagai Wethouder (pejabat hukum), lalu loco Burgermeester (Wakil Walikota) Betawi. Pada usia 25 Tahun, Thamrin dipercaya menduduki jabatan anggota Gemeenteraad (Dewan Kotapraja) Batavia, dengan duduk sebagai anggota Gemeenteraad Thamrin leluasa bergaul dengan berbagai tokoh sosial Politik. Pada 16 Mei 1927 Thamrin ditunjuk sebagai anggota Volksraad dan sejak saat itulah Thamrin menjadi anggota Volksraad selama empat periode, dengan jabatan terakhir Wakil Ketua Volksraad hingga akhir hayatnya. Sebagai tokoh masyarakat Betawi tanggal 1 Januari 1929 Thamrin mendirikan organisasi perkumpulan kaum Betawi dengan misi untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat Betawi dalam berbagai bidang. Sedangkan dibidang politik Thamrin bergabung dengan Perindra (Partai Indonesia Raya) sejak didirikan tahun 1935, disini ia mengepalai Departemen Urusan Politik.

Tampak Halaman depan Museum

Tanggal 3 Januari 1941, usai rapat-rapat dirumahnya MH Thamrin mengalami anvaal, muntah-muntah, Dr.Kayadu menyimpulkan kemungkinan Thamrin menderita nierziekte, gangguan ginjal dan komplikasi jantung. Tapi belum sempat dibawa ke CBZ (sekarang Rumah Sakit Cipto), rumahnya malam digeledah dan sejak tanggal 6 Januari 1941 Husni Thamrin dinyatakan sebagai tahanan rumah dengan tuduhan bekerjasama dengan Jepang serta semua peluang pengobatan untuknya ditutup dalam tahanan dan keaadaan sakit parah sehingga akhirnya pada hari minggu tanggal 11 Januari 1941 Pukul 04:00 WIB MH Thamrin meninggal dunia karena gagal jantung. MH Thamrin dimakamkan di Pemakaman Karet. Pada saat pemakamannya yang penuh sesak karena diikuti oleh sekitar 20.000 orang pengiring mulai dari pegawai rendahan sampai orang berpangkat yang ingin melihat pemakaman orang yang memperjuangkan nasib bangsanya. Kini, nama Mohammad Hoesni Thamrin diabadikan menjadi salah satu nama jalan di Ibukota, salah satu jalan terpadat yang berada di jantung Kota Jakarta.

Riwayat dan Aktivitas Musium MH Thamrin

Koleksi Meja Tamu Museum MH Thamrin

Rumah Mohammad Hoesni Thamrin yang kini telah menjadi Musium ‘Husni Tahmrin’ pada mulanya termasuk salah satu bangunan yang dibangun oleh Pemerintah Kolonial pada abad ke-20 yang kemudian dibeli oleh Mohammad Hoesni Thamrin. Rumah tersebut yang kemudian dihibahkan untuk kegiatan pergerakan nasional Indonesia untuk menuju kemerdekaan pada saat pra kemerdekaan Indonesia seperti tempat dilakukannya pembahasan konsep sumpah pemuda, pertemuan-pertemuan dalam menyusun strategi perjuangan serta rapat-rapat pergerakan Nasional seperti Kongres Rakyat Indonesia, dan menjadi sekretariat pemufakatan Perhimpunan-perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) sehingga musium MH Thamrin ini sempat juga dikenal sebagai gedung Pemufakatan.
Musium Husni Thamrin merupakan salah satu musium di DKI Jakarta yang dikhususkan untuk mengenang jasa pahlawan nasional Mohammad Hoesni Thamrin, seorang tokoh masyarakat Betawi di Jakarta. Letak Musium MH Thamrin berada di Jalan Kenari II Nomor 15, musium ini bisa dijangkau dengan berjalan kaki atau dengan mengendarai mobil kecil karena musium ini tidak berada dijalan besar akan tetapi harus melewati perkampungan penduduk di jalan Kenari yang letak jalan masuknya tidak jauh dari Jalan Salemba Raya.

Penulis lagi mejeng  

Aktivitas musium MH Thamrin antara lain: melakukan pelayanan informasi tentang perjuangan MH Thamrin dan pergerakan Nasional, melakukan penelitian tentang MH Thamrin dan pergerakan Nasional, menyelenggarakan lomba-lomba untuk pelajar dan mahasiswa dan menyelenggarakan seminar, napak tilas dan pertunjukan sandiwara tentang MH Thamrin dan pergerakan nasional. Waktu kunjungan musium adalah terbuka setiap hari selasa sampai hari minggu dari pukul 09:00 WIB sampai dengan pukul 15:00 WIB sedangkan untuk hari Senin atau hari besar nasional musium tutup. Untuk harga tiket masuk Dewasa dikenakan biaya Rp 2.000, sedangkan Mahasiswa dikenakan biaya Rp 1.000,- dan pelajar atau anak-anak dikenakan biaya Rp. 600,-.
Musium MH Thamrin merupakan bangunan khas berarsitektur khas Betawi yang terdiri dari satu lantai dengan patung MH Thamrin tepat berada di depan musium. Di dalam musium terdapat koleksi peningggalan MH Thamrin antara lain: Foto-foto reproduksi tentang kiprah perjuangan MH Thamrin dalam pergerakan nasional Indonesia, Foto-foto reproduksi suasana kota Jakarta pada zaman MH Thamrin, Lukisan tentang MH Thamrin, Radio yang digunakan untuk mendengarkan siaran dari dalam dan luar negeri, kaca rias, Sepeda yang pernah digunakan oleh MH Thamrin, meja makan, Materai, alat musik khas Betawi, bale-bale tempat pembaringan terakhir jenazah MH Thamrin, lemari pakaian, kursi, piring hias, blangkon dan buku-buku kepustakaan naskah yang berisi tentang MH Thamrin dan pidato-pidatonya Thamrin di Volksraad.

Tampak ruang dalam museum

Nilai-nilai Perjuangan MH ThamrinHal yang perlu dipelajari dari perjuangan Mohammad Hoesni Thamrin adalah metode perjuangannya untuk mencapai kemerdekaan. Metode perjuangan MH Thamrin adalah metode perjuangan yang kooperatif dan tidak frontal. Ketika Thamrin memutuskan untuk berjuang didalam sistem parlemen maka Thamrin berusaha membentuk sebuah fraksi nasional yang bertujuan mencapai kemerdekaan Indonesia secepat-cepatnya. Fraksi terdiri dari sepuluh orang pribumi dimana Thamrin ditunjuk sebagai pemimpinnya, pembentukan fraksi ini bertujuan menyatukan kekuatan kelompok nasional dalam Volksraad untuk menghadapi pihak lawan. Pada saat berada di Volksraad itulah Thamrin berbuat banyak dalam melakukan perjuangan untuk memperjuangkan nasib bangsanya untuk merdeka dari penjajah, itulah cara Thamrin yang kooperatif-revolusioner yang berjuang dari dalam sistem.
Untuk mengenang perjuangan MH Thamrin, pada tanggal 28 Juli Tahun 1960 Pemerintah Republik Indonesia melalui Prseiden Soekarno menganugerahkan Mohammad Husni Thamrin sebagai pahlawan Nasional dan menggunakan rumah peninggalannya sebagai musium. Bagi penggemar sejarah, seperti kata Soekarno ‘Jas Merah’ (Jangan Sekali kali melupakan Sejarah), mengunjungi musium ini adalah wajib hukumnya dan tidak lengkap rasanya apabila tidak datang langsung untuk melihat musium ini sebagai bahan renungan tentang seberapa besar ruh perjuangan seorang Mohammad Hoesni Thamrin dalam berjuang untuk memerdekakan Republik Indonesia. Selamat berkunjung!.

Leave a Reply