Sai Bumi Ruwa Jurai?

Oleh: Zainudin Hasan,SH,MH*
 
Lampung Sai, Sang Bumi Ruwa Jurai.
Baliho didepan Makam Pahlawan

Setiap pekan kalau pulang ke Kota Bandar Lampung, saya selalu terusik ketika melalui papan reklame/ Baliho besar yang terpampang di atas jalan didekat Taman Makam Pahlawan bertuliskan SAI BUMI RUWA JURAI. Entahlah, saya merasa aneh tiap kali harus lewat dan membacanya, mungkin karena tak biasa, belum terbiasa atau agak ganjil, akhirnya saya coba tuangkan ‘uneg-uneg’ saya melalui tulisan di blog, sekedar sharing, sumbang saran dan berbagi pendapat, mudah-mudahan saja tidak hanya menjadi sekedar tulisan ‘curhat-curhatan’ ala abege di buku diary.

Penggantian kata SANG BUMI RUWA JURAI menjadi SAI BUMI RUWA JURAI saya nilai lebih karena alasan politis, bukan melihat dan memandang dari segi alasan Etimologis, Sosiologis, maupun historis, saya tidak tahu persisnya mengapa perubahan itu terjadi, karena saya bukan pelaku sejarah mengapa kata itu bisa muncul hingga kemudian dibahas ulang sehingga kini kata SANG BUMI RUWA JURAI akhirnya dirubah dan dipopulerkan menjadi SAI BUMI RUWA JURAI. Dari berbagai informasi dikabarkan penggantian nama SANG menjadi SAI karena konon kata SANG bukan berasal dari Bahasa Lampung akan tetapi berasal dan pengaruh bahasa Sansekerta, padahal jelas-jelas antara kata SANG dengan SAI makna dan artinya jelas berbeda.
Saya tidak tahu, entah apa tujuan ‘abang Oedin’ mengganti kata yang sudah lekat tersebut, namun mungkin benar kata ahli sejarah bahwa terkait kebijakan sejarah, “siapa yang berkuasa maka ialah yang membuat sejarah”, Naah termasuk di Lampung ini.
Mengapa saya lebih memilih tetap menggunakan kata SANG dari pada kata SAI?. Berikut ini adalah alasan saya: Kata SANG merupakan kata depan yang memiliki banyak makna lebih dibandingkan dengan kata SAI. Artinya, kata SANG bukan hanya berarti SATU (dalam arti bilangan jumlah) seperti arti kata SAI, Ruwa, Telu dst… dalam bahasa Lampung, akan tetapi kata Lambang yang agung dan mempunyai nilai-nilai luhur yang berarti menyatakan tempat berada, berarti Satu isi dalam satu kesatuan, berarti Mulia, dan juga bermakna khusus.
Berikut ini saya coba uraikan kata SANG berdasarkan kata per kata. Secara Etimologis/Bahasa kata Sang memiliki beberapa arti: Pertama, Sang sebagai Kata bantu di depan yang menyatakan tempat. Dalam Bahasa Lampung (Sungkai marga Bunga Mayang) Kata Sang merupakan kata depan yang biasa dipakai dalam kehidupan sehari-hari seperti kata Sang Lom/ dilom (sebelah dalam), Sang bah (dibawah), Sang kiri (sebelah kiri), Sang Ja (sebelah sini), Sang udi/dudi (sebelah sana).
Kedua, Sang yang berarti Mulia, Agung atau dimuliakan. Dalam bahasa Lampung ada istilah atau gelar adat yang diberikan kepada seseorang seperti SANG Ratu. Sedangkan dalam Bahasa Indonesia ada istilah SANG Merah putih, Sang Dwi warna, Sang Budha, Sang Pangeran dan lain sebagainya yang tujuan dari penggunaan kata Sang disini adalah sebagai bentuk pemulian atau pengagungan terhadap sesuatu yang disebutkan.
Ketiga, Sang yang berarti gelar Khusus. Kata Sang yang disandingkan untuk gelar khusus yang disebabkan karena gelar yang diberikan terhadap keahliannya, jasanya atau terhadap apa yang telah dilakukan. Contoh: SANG Pencerah, Sang Pembaharu, Sang Pujangga, Sang Nabi, dan Sang Pahlawan.
Keempat, SANG yang berarti SATU kesatuan yang utuh. Dalam Bahasa Lampung ada tingkatan satu yang bermakna satu yang berarti kumpulan yaitu kata SANGA. Sanga berarti kumpulan yang menjadi Satu dalam satu wadah atau tempat yang membuatnya menjadi kesatuan yang utuh. Contoh: Sanga karung (satu karung/sekarung), sanga mubil (Satu mobil/Semobil), Sanga kapal (Satu kapal/ sekapal), Sanga menyanak (Satu keluarga/Sekeluarga), Sanga Muari (sepersaudaraan laki-laki) Sanga Bunakbai (sepersaudaraan perempuan) dan lain-lain. Kata sanga disini pun akrab dalam kehidupan sehari-hari dalam bahasa Lampung seperti kata Sanga sangkak, sanga Nuwa, sanga lemari dll.
Nah!, sekedar saran. Perlu dikaji ulang apabila kata SANG dikatakan bukan berasal dari kata atau bahasa Lampung, karena jelas-jelas bahasa Lampung menggunakan kata Sang dalam kehidupan sehari-hari (“induh amun hulun kota mak pandai lagi cawa lampung, halok nihan ia makkot makkai kata Sang.. lagi”)… hehee… karena antara kata SANG dan SAI berbeda secara makna, SANG itu artinya bukan hanya semata-mata SATU saja seperti halnya kata SAI akan tetapi memiliki nilai makna lebih yang jauh lebih mulia, luhur dan mendalam.
Bahasa lahir dan muncul dari keluhuran budaya dan kearifan lokal kemudian menjadi ‘ayat’ yang tersakralkan karena warisan turun temurun, menjadi alat komunikasi, lagu, penyebaran bahkan menjadi ‘mantra’ berpuluh-puluh tahun bahkan berabad-abad lamanya yang umurnya sama dengan peradaban manusia. Dalam setiap bahasa di dunia ini akan saling pengaruh dan mempengaruhi tanpa terkecuali termasuk bahasa Indonesia, Melayu, Arab, Inggris, Jawa, Cina, Sansekerta, dan lain-lain. Bahasa adalah peradaban yang menciptakan sejarah, menyejarah, membuat sejarah, namun jangan sampai kita membuat sejarah dengan melawan sejarah itu sendiri.
Kantu TULAH!
Waalahualam bisshawab.

*Dosen Universitas Bandar Lampung

5 Comments

  1. Unknown April 10, 2012
  2. Zainudin Hasan,SH,MH April 10, 2012
  3. Unknown November 25, 2013
  4. Indra Setiawan September 8, 2014

Leave a Reply